Rabu, 30 September 2020

Catatan Jemari: Sembilan Tahun yang ke Lumpia Kota Lama

Catatan Jemari: Sembilan Tahun yang ke Lumpia kota lama alias Semarang. Kami mengenalnya dari usia yang masih sangat muda. Dari perjalananku selama tiga hari bersama ayah dan ibu. Setiap tradisi yang menjadi ciri khasnya, betapa memukau. Membuatku jatuh hati pada Kota Lumpia penuh pesona ini.

Usiaku 9 tahun, saat ayah mengajakku ke luar kota. Aku tengah liburan akhir semester. Itulah mengapa ayah mengajakku. Ibu juga ikut ke Semarang. Kami tidak terbang naik pesawat. Kendaraan roda empat di dalam bagasilah yang akan mengantarkan kami menempuh jarak ratusan kilometer.



Sambil meliput, sambil berlibur. Ayah sudah terbiasa dengan hal ini. Aku tidak begitu paham bagaimana ayah mengatur keduanya. Jujur saja, kalau ada di posisinya, aku tak akan mampu berkonsentrasi dalam pekerjaanku. Kalian pasti tahu, apa yang ada dipikiran anak-anak. Berlibur dan bermain!

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Aku sudah tidak sabar menginjakkan kaki di bumi Semarang. Segera aku mandi dan sarapan. Setelah selesai semua persiapan, kami menuju mobil dan berangkat.

Sepanjang perjalanan aku tertidur. Saat terbangun, kulihat ke luar jendela mobil. Hmm sepertinya lapangan ini pernah kulihat di televisi. Tapi, apa yaaa? Aaah ya, Simpang Lima! Tentu saja, ini ciri khas Kota Semarang. Waah lama juga tidurku. Tau-tau sudah sampai lagi di Kota Semarang.

 

Hal pertama yang kami lakukan sesampainya di Semarang adalah mencari penginapan. Ayah mencari hotel di sekitar Simpang Lima. Setelah muta-mutar, akhirnya dapat juga, hotel bintang dua! Tidak mewah bangunannya, tapi tidak apalah. Toh, kami disini karena pekerjaan ayah. Artinya, tidak akan banyak waktu untuk berada di kamar hotel.

 Acara seminar nasional yang akan ayah liput akan dilaksanakan besok di hotel sekitar Simpang Lima. Sekarang masih sore. Ibu mengajak kami makan malam di sekitar lapangan Simpang Lima. Katanya, di sana banyak yang menjual makanan enak. Dan setiap malam, lapangan itu selalu ramai. Banyak hiburan yang bisa dinikmati.

Saat malam tiba, kami bersiap-siap untuk keluar makan malam. Ayah memilih makan di sebuah restoran. Kalau aku, pasti aku lebih memilih membeli makanan di pinggir jalan lalu membawanya ke lapangan. Di sana pasti akan terasa romantisnya makan malam. Ditemani cahaya bulan dan bintang yang menghiasi langit. Waaahh... Aku ingin sekali melakukannya!

Hmm tapi tidak apa. Makan lumpia di restoran ini juga sangat mantap. Dagingnya sangat terasa dan telurnya tidak tanggung-tanggung. Pas. Rasanya sangat enak! Menurut sejarah, lumpia merupakan perpaduan cita rasa antara Tionghoa dan Indonesia yang dibuat pertama kali di kota Semarang. Kalian bisa explore komposisi lumpia enak ini disini. Nyaamm, sedap sekali lumpialumpia disini. Tidak salah bila dikatakan Kota Lumpia!

Selesai makan, kami kembali lagi menuju hotel. Ayah harus segera istirahat agar tidak kelelahan. Untuk hari ini, cukup satu kunjungan saja. Semoga setelah ayah selesai meliput nanti, kami sekeluarga bisa berkunjung ke tempat wisata lainnya di Semarang.

Keesokan hari, saat ayah meliput, ibu mengajakku ke Museum Lawang Sewu Semarang. Karena jaraknya yang tidak dekat dari hotel, aku dan ibu berangkat menaikki mobil. Ibu yang menyetir. Kami juga membawa kamera. Momen di Lawang Sewu harus diabadikan. Foto akan menjadi bukti kenang-kenangan kami di tempat indah ini. Yaah kapan lagi kan liburan di Semarang.

Hmmm rasanya museum ini tidak pernah sepi pengunjung yaa... Aku juga pernah melihat acara televisi tentang liputan Lawang Sewu atau Pintu Seribu ini. Ya, Pintu Seribu... Masyarakat menyebutnya begitu. Karena bangunan ini mempunyai banyak pintu dan jendela yang tinggi besar. Walupun sebenarnya tidak mencapai seribu. Dalam liputan itu, seorang reporter berjalan-jalan menyusuri isi gedung sambil sesekali bercerita tentang sejarah yang tertulis di berbagai pajangan.

Aku ingat, pada masa perjuangan Indonesia dulu, gedung ini menjadi pertempuran antara pemuda Angkatan Muda Kereta Api dengan Kempetai dan Kidobutai, penjajah asal Jepang. Pembawa acara itu juga mengatakan, dulu bangunan ini pernah dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer dan Kantor Wilayah Kementrian Perhubungan Jawa Tengah.

Setelah puas berfoto di depan gedung, aku dan ibu masuk ke dalam museum. Kami menuju ke lantai paling atas. Di sana ada ruangan yang sangat luas tanpa sekat-sekat. Dulu, ruangan ini dipakai untuk tempat berdansa para pekerja Belanda dan noni-noninya. Ruangan ini ternyata juga dipakai untuk minum-minum. Di ujung ruangan terlihat ada meja yang dulu berfungsi sebagai meja bar.

Setelah selesai menyusuri lantai atas, aku dan ibu turun ke lantai bawah. Kami menuju ke ruang bawah tanah. Ternyata, ruang ini menghubungkan Lawang Sewu dengan bangunan tua lainnya di Kota Semarang. Salah satunya, yang menghubungkan ke kawasan Kota Lama yaitu sekitar 4-5 km jaraknya. Bangunan ini rupanya sengaja dirancang untuk keperluan irigasi. Karena memang letak kotanya yang dekat dengan laut. Selain itu, ruang yang dikenal sebagai penjara bawah tanah ini juga berguna untuk menangkal banjir karena air pasang. Waahh menarik sekali banguan ini!

Ibu lalu mengajakku wisata ke Klenteng Gedung Batu Sam Po Kong. Aku yang tak paham tentang seluk beluk kota ini, hanya bisa mengiyakan ajakan ibu. Dan ini dia, Klenteng Gedung Batu Sam Po Kong! Waahh megah sekali, aku bisa merasakan suasana negeri Cina di sini! Dan ditambah lagi, patung besar di depan kuil. Patung itu sengaja dibuat menyerupai seorang laksamana asal Cina, yaitu Laksamana Cheng Ho.

Kata pemandu yang mengantar kami berkeliling, Laksamana Cheng Ho adalah seorang kasim Muslim yang menjadi orang kepercayaan Kaisar Yongle dari Tiongkok. Laksamana Cheng Ho sendiri lahir di daratan Yunna. Kehidupannya tidak jauh dari berbagai peperangan saudara yang terjadi di negaranya. Karena kemampuan dan keberanian Cheng Ho, ia pun dipercaya Yongle untuk menjadi kaisar dinasti Ming.

Seiring dengan pergantian dinasti, Cheng Ho diberi amanat oleh sang kaisar menjadi seorang duta internasional. Ia melakukan berbagai ekspedisi ke berbagai negara dan mengharuskannya singgah di suatu negara, salah satunya yaitu Indonesia. Selama persinggahannya itu, ia membawa pesan perdamaian kepada setiap kerajaan yang dikunjungi dan  memulai bisnis perdagangannya juga.

Namun saat sedang berlayar melewati laut Jawa, banyak awak kapalnya yang jatuh sakit. Melihat hal itu Laksamana Cheng Ho memerintahkan para awak kapalnya merapat ke pantai utara Semarang. Setelah mendarat, ia dan para awaknya berlindung di sebuah goa dan menjadikannya sebagai markas yang sekarang telah berdiri menjadi klenteng.

Namun sekarang area klenteng yang berupa kuil ini lebih difungsikan sebagai tempat sembahyang, sehingga tidak semua orang boleh memasukinya. Bangunan kuil, baik yang besar maupun yang kecil dipagari. Ada petugas keamanan yang berjaga di sana. Hanya yang ingin sembahyang saja yang dapat masuk. Untuk wisatawan sepertiku, kami hanya bisa melihat dari balik pagar.

Aku dan ibu juga mengunjungi kuil makam juru mudi kapal yang pernah ditumpangi Laksamana Cheng Ho. Nama tempatnya Kyai Juru Mudi. Selain itu ada pula kuil yang dinamai Kyai Jangkar, karena di sini rupanya tersimpan jangkar asli kapal Cheng Ho yang dihias dengan kain warna merah. Kemudian kami berjalan lagi dan menemukan tempat bernama Kyai Cundrik Bumi. Hmmm rupanya dulu di sini merupakan tempat penyimpanan segala jenis persenjataan yang digunakan awak kapal Cheng Ho.

Untungnya, kami tidak berkunjung pada hari-hari besar seperti Hari Raya Imlek dan hari kelahiran Cheng Ho. Karena biasanya pada hari-hari itu diadakan perayaan yang cukup meriah. Ada bazar, festival Barongsai, dan berbagai macam jualan, yang pasti akan memenuhi tempat wisata ini. 

"Bu,,bu,,buuu!! Lihat buu! Itu ada orang rame-rame, ada apa yaa, bu?", mataku tertuju pada suara musikal yang mirip dengan Gambang Kromong. Dan kerumunan orang di lapangan luas plasa luar klenteng itu juga menarik perhatianku. "Ohh itu, iya, kata ayah, hari ini ada acara kontes gituu. Nah itu tuu yang lagi tampil, mereka lagi menari gambang Semarang, kamu tau kan, nia? Itu tarian khas Kota Semarang", ujar ibu.

 


Ooh jadi mereka sedang menari tarian gambang Semarang. Waah itu luar biasa! Dalam tarian ini ada gerakan tangan (lambeyan) yang berpangkal pada pergelangan tangan dengan media gerak sebatas pusar hingga pandangan mata. Dan itu semua membutuhkan latihan yang sangat serius. Kerja keras dan harus saling bekerjasama. Karena mereka bukan hanya membawa nama baik diri mereka masing-masing. Tapi mereka juga membawa nama baik Kota Semarang. 

Waahh sungguh luar biasa! Aku senang sekali bisa mengunjungi dan akhirnya menulis Catatan Jemari: Sembilan Tahun yang ke Lumpia Kota Lama ini. Di usiaku yang masih sembilan tahun, tentunya pengalaman tiga hari di kota ini sangatlah menakjubkan! Banyak sekali ilmu yang kudapat, yang mungkin tak didapatkan oleh anak seusiaku. Hmm masih banyak lagi yang belum terungkap, tapi sekarang mata ini harus dipejamkan. Sudah malam, waktunya istirahat. Kami sudah sampai kembali di kamar hotel, siap untuk tidur. Besok, pastinya, petualangan-petualangan seru akan menanti. Bersiaplah wahai mata!

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar