[Diangkat dari kisah nyata] Hari-hari berlalu begitu saja. Pembelajaran rutin di SMA rasanya hanya formalitas belaka. Setiap hari Senin-Jumat datang ke sekolah tanpa semangat menuntut ilmu. Datang-pulang sekolah hanya mengejar presensi yang tidak bisa diakali (scan sidik jari). Duduk manis, mendengarkan guru menerangkan, sambil sesekali menengok jam. Berharap jarum jam cepat menunjukkan waktu pulang.
Kemudian tersadar, kebiasaan ini harus segera dihentikan. Aku telah memasuki semester akhir SMA, dimana mulai saat ini aku harus lebih serius untuk belajar. Setahun kedepan, aku harus sudah lulus dari sekolah ini dan melanjutkan jenjang pendidikan di perguruan tinggi. Bagiku sekarang ini, masuk perguruan tinggi negeri (PTN) adalah sebuah keharusan! Aku sadar perubahan harus segera dilakukan!
Di ujung semester 5. Siswa-siswi SMA mulai serius mengikuti les di berbagai tempat, aku hanya mencukupkan diri dengan pembelajaran di sekolah. Guru, teman, dan orangtua. Aku mencukupkan pembelajaran dari mereka semua. Les atau semacamnya tidak ku ambil, simpel, alasannya sayang duit.
Hingga akhirnya aku merenung. Kelak ingin menjadi apa diri ini? Bakat tidak tau, cita-cita tidak jelas, potensi belum terasah, apa sebenarnya tujuan hidupku ini? Ke arah mana kaki ini kelak melangkahkan? Hfftt pikiranku sungguh membuatku gelisah. Perasaan gelisah bercampur sedih menjadi sebuah kekhawatiran yang tidak bersolusi. Aku benar-benar dilanda kebingungan. Dan itu menjadi beban pikiran disetiap penghujung malam sebelum tidur.
Lalu aku teringat, mengapa tidak kutanyakan saja pada Tuhan yang Maha Mendengar. Padahal Ia kuasa memberikan jalan bagi setiap hambaNya yang mengadu. Oke, mulai saat ini aku akan memohon petunjukNya. Doaku di ujung semester 5 ini hanya sebatas memohon petunjuk mengenai cita-citaku. Aku tidak menuntut untuk masuk jurusan ini atau itu, tidak pula menuntut untuk lolos perguruan tinggi tertentu. Yang menjadi fokus doaku hanya petunjuk mengenai cita-citaku, agar dengan itu aku memiliki semangat untuk menggapainya.
Sudah 7 hari sejak hari pertama doa dilantunkan. Tapi aku belum juga mendapat petunjuk atas doaku itu. Libur semester ganjil pun tiba. Nikmat liburan tidak begitu kurasakan. Beban pikiran itu masih mengganggu. Oh Tuhan, aku berharap agar petunjukMu segera turun. Aamiin.
Siang hari, saat sedang barbaring, tiba-tiba ayah memanggilku. Aku berdiri dan segera berjalan mendatangi ayah. Melihat kedatanganku, ayah lantas bertanya, “Kamu sudah tau nia, mau ambil jurusan apa?”. Mendengarnya, aku kaget sekaligus malu. “Belum tau ayah, ka nia masih bingung”, jawabku. Melihat wajah ayahku, aku rasa ia tidak begitu kecewa dengan jawabanku. Syukurlah.
Ayah mengatakan sesuatu yang sangat memotivasiku hari itu. "Nia, kamu itu ambil peternakan aja. Indonesia itu negara agraris, harusnya negara kita bisa menguasai dunia di bidang pertanian tapi nyatanya beberapa produk hasil pertanian masih impor. Kamu harus bisa nanti setelah lulus kuliah, kecilkanlah angka impor itu. Di bidang peternakan buatlah, ciptakanlah pakan berkualitas yang lebih murah harganya dari pakan impor. Sehingga pakan lokal-lah yang dominan di negara kita, bukan sebaliknya".
YAP, betul juga kata ayah. Di sini aku merasa akhirnya petunjuk Tuhan telah tiba. Terima kasih, Engkau telah menjadikan ayahku sebagai perantara atas petunjuk yang selama ini kutunggu. Ayah, kau pasti orang spesial yang menjadi sebab perantara petunjuk Tuhan untukku.
Libur semester usai. Kini saatnya kembali ke sekolah. Semester enam dimulai. Aku tidak merasa takut, tegang atau cemas sama sekali seperti teman-temanku. Aku santai tapi bukan berarti juga aku siap untuk semua itu. Aku bahkan tidak pernah belajar jika bukan karena ada ujian. Sungguh buruk persiapanku. Sebenarnya lebih karna aku belum menemukan passion ku.
...
Memasuki perguruan tinggi negeri, umumnya ada 3 jalur: jalur SNMPTN, SBMPTN, dan UTM. Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) adalah jalur dengan nilai rapot semester satu sampai semester lima. Aku berharap sekali lolos seleksi ini sehingga tidak perlu lagi mengikuti ujian tertulis seperti SBMPTN atau UTM, yang soal-soalnya terkenal sangat sulit.
Tiba hari dimana pengumuman SNMPTN keluar. Karena tidak ada teman satu sekolah yang memilih pilihan yang sama denganku, keyakinan bahwa aku akan lolos dalam seleksi ini sangat besar. Dan... “Maaf Anda tidak lolos seleksi SNMPTN 2017”, hatiku benar-benar hancur. Perasaanku mulai gundah, sedih, beberapa detik kemudian air mata pun jatuh membasahi pipi.
Oh Tuhan, apa yang harus kulakukan?? Aku bahkan tidak pernah belajar untuk ujian SBMPTN, karena aku yakin sekali akan lolos seleksi rapot. Sekarang hanya tersisa dua minggu lagi untuk belajar mempersiapkan ujian SBM-PTN.
Aku pun segera mendaftar bimbel. Waktu belajar dari jam 10.00 sampai 16.30 sore. Banyak sekali ilmu yang baru aku pahami di tempat itu. Dan ini menyadarkanku. Teman-teman sudah sampai di bab R dan aku baru saja memahami bab C. Dari situ aku berusaha mengejar ketertinggalanku. Setiap ada jam tambahan aku ikuti. Pikirku, jika aku sudah kalah dari mereka, bagaimana aku bisa mengalahkan siswa-siswa lainnya yang juga berjuang masuk PTN?
Hari ujian SBMPTN tiba. Saat kertas soal kubaca, penyesalan semakin terasa. Persiapan belajar yang tidak maksimal, alhasil kurang dari 60% soal terjawab. Ayah kecewa dengan kemampuanku. Disisi lain, aku takut dengan skor ujian dimana kami diberi -1 untuk setiap jawaban yang salah. Tetapi jalan pikir ayah berbeda, lebih baik jawab asal saja daripada dikosongkan. Ya, mungkin ayah benar. Seharusnya aku tidak pengecut saat menjawab soal ujian tadi.
Aku pelajari lagi soal tahun kemarin. Sesekali melihat youtube yang memberi penyelesaian soal dengan cara sederhana. Semua itu menjadi bekal untuk menghadapi Ujian Tulis Mandiri (UTM). Namun hasil UTM yang pertama masih tidak berhasil. Kecewa, tentu saja. Tapi bukan ke-kecewaan-lah yang mengubah nasib, tapi semangat yang tidak padamlah, itu kuncinya!
Ada pula jalur Mandiri yang seleksinya berdasarkan nilai SBMPTN. Aku daftarkan diri di 3 perguruan tinggi negeri dengan jalur ini. Hasilnya? Sungguh, aku tidak percaya. Semua PTN menolakku. Ya Tuhan, sebodoh itukah diriku? Kasian orangtuaku, menanggung malu dengan semua kegagalan ini. Tidak ada kebanggan memiliki kakak yang bodoh, mungkin itu yang ada dipikiran adikku sekarang.
Refleksi diri. Ku coba telusuri dimana letak kesalahanku. Ternyata ridho (kerelaan) orang tua. Aku belum minta maaf pada mereka atas kesalahan-kesalahanku selama ini. Mungkin itulah penghambat keberhasilanku. Malam ini, aku harus minta maaf kepada mereka. Harus!
“Bunda, maafin kak nia ya. Maaf kaa...”, aku tidak bisa menyelesaikan kalimatku, air mata sudah jatuh. Sedapat mungkin tangisan itu kusembunyikan. “Iyaa, nia juga yang semangat ya walau belum keterima dimana-mana”, balas bunda. Aku juga minta maaf kepada ayah. Ayah juga menyemangatiku. Malam itu dilanda kesedihan, pertama mengingat dosaku pada mereka, kedua teringat aku yang belum diterima di PTN.
Pendaftaran dengan nilai SBMPTN kembali dibuka oleh salah satu universitas di Jawa Timur. Tidak peduli dengan hasilnya nanti, aku daftarkan saja diriku. Tidak apa, ini adalah bagian dari usaha. Ada pula ujian tertulis yang dibuka universitas di Bogor dan Semarang. Ku ikuti kedua ujian tersebut. Aku sudah sangat serius mempersiapkan UTM ini, apapun hasilnya, semoga itu yang terbaik bagiku.
Pengumuman hasil UTM tiba. Berdoa sebelum membuka, dan siapkan diri menerima kegagalan. “Selamat Anda dinyatakan Lulus UTM 2017”, aku menangis terharu melihatnya. Terima kasih Tuhan, akhirnya Engkau kabulkan doaku. Aku tidak menyangka, ternyata aku mampu. Aku sadar, ini berkat doa-doa orangtuaku. Sungguh, doa mereka sangat mujarab.
Setelah diterima, aku tak begitu peduli terhadap hasil seleksi lainnya. Tapi rasa penasaran tetap ada. Saat pengumuman UTM salah satu universitas di Semarang, aku berdoa terlebih dahulu dan “Selamat Anda Diterima”. Waaaw aku hampir tidak mempercayainya. Rasanya benar-benar menggembirakan.
Masih satu lagi pengumuman jalur mandiri yang sebentar lagi akan kubuka. Berdoa, seperti biasa, dan inilah saatnya. “Selamat Anda Diterima”. Aku tercengang. Ini serius? Bukan mimpi, kan? Aku tidak percaya, karena aku yakin nilai SBMPTN ku seharusnya tidak mampu menebus universitas ini. Tapi.... bagaimana bisa? Ini sulit dipercaya.
Dari situ aku mulai menyadari. Ada faktor lain, selain doa dan usaha keras yang kulakukan selama ini. Ternyata doa dan keridhoan orangtua-lah yang berkonstribusi besar dalam keberhasilan ini. Jika aku tahu lebih awal, maka akan aku jaga hati mereka. Agar jangan sampai mereka terluka karena perbuatanku. Jangan sampai mereka bersedih karena sifat burukku. Terima kasih Tuhan, Engkau telah mengajarkanku betapa pentingnya menghargai dan memperlakukan orangtua dengan sangat baik. I love you, Bunda, Ayah~






