Rabu, 30 September 2020

Jika PTN gagal terus...

   [Diangkat dari kisah nyata] Hari-hari berlalu begitu saja. Pembelajaran rutin di SMA rasanya hanya formalitas belaka. Setiap hari Senin-Jumat datang ke sekolah tanpa semangat menuntut ilmu. Datang-pulang sekolah hanya mengejar presensi yang tidak bisa diakali (scan sidik jari). Duduk manis, mendengarkan guru menerangkan, sambil sesekali menengok jam. Berharap jarum jam cepat menunjukkan waktu pulang.

    Kemudian tersadar, kebiasaan ini harus segera dihentikan. Aku telah memasuki semester akhir SMA, dimana mulai saat ini aku harus lebih serius untuk belajar. Setahun kedepan, aku harus sudah lulus dari sekolah ini dan melanjutkan jenjang pendidikan di perguruan tinggi. Bagiku sekarang ini, masuk perguruan tinggi negeri (PTN) adalah sebuah keharusan! Aku sadar perubahan harus segera dilakukan!

    Di ujung semester 5. Siswa-siswi SMA mulai serius mengikuti les di berbagai tempat, aku hanya mencukupkan diri dengan pembelajaran di sekolah. Guru, teman, dan orangtua. Aku mencukupkan pembelajaran dari mereka semua. Les atau semacamnya tidak ku ambil, simpel, alasannya sayang duit.

    Hingga akhirnya aku merenung. Kelak ingin menjadi apa diri ini? Bakat tidak tau, cita-cita tidak jelas, potensi belum terasah, apa sebenarnya tujuan hidupku ini? Ke arah mana kaki ini kelak melangkahkan? Hfftt pikiranku sungguh membuatku gelisah. Perasaan gelisah bercampur sedih menjadi sebuah kekhawatiran yang tidak bersolusi. Aku benar-benar dilanda kebingungan. Dan itu menjadi beban pikiran disetiap penghujung malam sebelum tidur.

    Lalu aku teringat, mengapa tidak kutanyakan saja pada Tuhan yang Maha Mendengar. Padahal Ia kuasa memberikan jalan bagi setiap hambaNya yang mengadu. Oke, mulai saat ini aku akan memohon petunjukNya. Doaku di ujung semester 5 ini hanya sebatas memohon petunjuk mengenai cita-citaku. Aku tidak menuntut untuk masuk jurusan ini atau itu, tidak pula menuntut untuk lolos perguruan tinggi tertentu. Yang menjadi fokus doaku hanya petunjuk mengenai cita-citaku, agar dengan itu aku memiliki semangat untuk menggapainya.

    Sudah 7 hari sejak hari pertama doa dilantunkan. Tapi aku belum juga mendapat petunjuk atas doaku itu. Libur semester ganjil pun tiba. Nikmat liburan tidak begitu kurasakan. Beban pikiran itu masih mengganggu. Oh Tuhan, aku berharap agar petunjukMu segera turun. Aamiin.

    Siang hari, saat sedang barbaring, tiba-tiba ayah memanggilku. Aku berdiri dan segera berjalan mendatangi ayah. Melihat kedatanganku, ayah lantas bertanya, “Kamu sudah tau nia, mau ambil jurusan apa?”. Mendengarnya, aku kaget sekaligus malu. “Belum tau ayah, ka nia masih bingung”, jawabku. Melihat wajah ayahku, aku rasa ia tidak begitu kecewa dengan jawabanku. Syukurlah.

    Ayah mengatakan sesuatu yang sangat memotivasiku hari itu. "Nia, kamu itu ambil peternakan aja. Indonesia itu negara agraris, harusnya negara kita bisa menguasai dunia di bidang pertanian tapi nyatanya beberapa produk hasil pertanian masih impor. Kamu harus bisa nanti setelah lulus kuliah, kecilkanlah angka impor itu. Di bidang peternakan buatlah, ciptakanlah pakan berkualitas yang lebih murah harganya dari pakan impor. Sehingga pakan lokal-lah yang dominan di negara kita, bukan sebaliknya".    

    YAP, betul juga kata ayah. Di sini aku merasa akhirnya petunjuk Tuhan telah tiba. Terima kasih, Engkau telah menjadikan ayahku sebagai perantara atas petunjuk yang selama ini kutunggu. Ayah, kau pasti orang spesial yang menjadi sebab perantara petunjuk Tuhan untukku.

    Libur semester usai. Kini saatnya kembali ke sekolah. Semester enam dimulai. Aku tidak merasa takut, tegang atau cemas sama sekali seperti teman-temanku. Aku santai tapi bukan berarti juga aku siap untuk semua itu. Aku bahkan tidak pernah belajar jika bukan karena ada ujian. Sungguh buruk persiapanku. Sebenarnya lebih karna aku belum menemukan passion ku.

    ...

 Memasuki perguruan tinggi negeri, umumnya ada 3 jalur: jalur SNMPTN, SBMPTN, dan UTM. Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) adalah jalur dengan nilai rapot semester satu sampai semester lima. Aku berharap sekali lolos seleksi ini sehingga tidak perlu lagi mengikuti ujian tertulis seperti SBMPTN atau UTM, yang soal-soalnya terkenal sangat sulit.

    Tiba hari dimana pengumuman SNMPTN keluar. Karena tidak ada teman satu sekolah yang memilih pilihan yang sama denganku, keyakinan bahwa aku akan lolos dalam seleksi ini sangat besar. Dan... “Maaf Anda tidak lolos seleksi SNMPTN 2017”, hatiku benar-benar hancur. Perasaanku mulai gundah, sedih, beberapa detik kemudian air mata pun jatuh membasahi pipi.

    Oh Tuhan, apa yang harus kulakukan?? Aku bahkan tidak pernah belajar untuk ujian SBMPTN, karena aku yakin sekali akan lolos seleksi rapot. Sekarang hanya tersisa dua minggu lagi untuk belajar mempersiapkan ujian SBM-PTN.

    Aku pun segera mendaftar bimbel. Waktu belajar dari jam 10.00 sampai 16.30 sore. Banyak sekali ilmu yang baru aku pahami di tempat itu. Dan ini menyadarkanku. Teman-teman sudah sampai di bab R dan aku baru saja memahami bab C. Dari situ aku berusaha mengejar ketertinggalanku. Setiap ada jam tambahan aku ikuti. Pikirku, jika aku sudah kalah dari mereka, bagaimana aku bisa mengalahkan siswa-siswa lainnya yang juga berjuang masuk PTN?

    Hari ujian SBMPTN tiba. Saat kertas soal kubaca, penyesalan semakin terasa. Persiapan belajar yang tidak maksimal, alhasil kurang dari 60% soal terjawab. Ayah kecewa dengan kemampuanku. Disisi lain, aku takut dengan skor ujian dimana kami diberi -1 untuk setiap jawaban yang salah. Tetapi jalan pikir ayah berbeda, lebih baik jawab asal saja daripada dikosongkan. Ya, mungkin ayah benar. Seharusnya aku tidak pengecut saat menjawab soal ujian tadi.




    Dan apa yang aku khawatirkan terjadi. “Mohon Maaf, Anda Dinyatakan Tidak Diterima pada SBMPTN 2017”. Ya, tentu saja. Waktu dua minggu masih kurang untuk bisa menaklukan soal-soal SBM. Sekarang, sudah tidak ada pembelajaran di bimbel lagi. Aku benar-benar belajar sendiri. Soal yang sulit, ku kumpulkan, setelah cukup banyak, aku pergi ke sekolah menanyakan soal-soal tadi kepada guru. Kegagalanku menumbuhkan ambisi yang besar selama perjalanan ini.

    Aku pelajari lagi soal tahun kemarin. Sesekali melihat youtube yang memberi penyelesaian soal dengan cara sederhana. Semua itu menjadi bekal untuk menghadapi Ujian Tulis Mandiri (UTM). Namun hasil UTM yang pertama masih tidak berhasil. Kecewa, tentu saja. Tapi bukan ke-kecewaan-lah yang mengubah nasib, tapi semangat yang tidak padamlah, itu kuncinya!

    Ada pula jalur Mandiri yang seleksinya berdasarkan nilai SBMPTN. Aku daftarkan diri di 3 perguruan tinggi negeri dengan jalur ini. Hasilnya? Sungguh, aku tidak percaya. Semua PTN menolakku. Ya Tuhan, sebodoh itukah diriku? Kasian orangtuaku, menanggung malu dengan semua kegagalan ini. Tidak ada kebanggan memiliki kakak yang bodoh, mungkin itu yang ada dipikiran adikku sekarang.

    Refleksi diri. Ku coba telusuri dimana letak kesalahanku. Ternyata ridho (kerelaan) orang tua. Aku belum minta maaf pada mereka atas kesalahan-kesalahanku selama ini. Mungkin itulah penghambat keberhasilanku. Malam ini, aku harus minta maaf kepada mereka. Harus!

    “Bunda, maafin kak nia ya. Maaf kaa...”, aku tidak bisa menyelesaikan kalimatku, air mata sudah jatuh. Sedapat mungkin tangisan itu kusembunyikan. “Iyaa, nia juga yang semangat ya walau belum keterima dimana-mana”, balas bunda. Aku juga minta maaf kepada ayah. Ayah juga menyemangatiku. Malam itu dilanda kesedihan, pertama mengingat dosaku pada mereka, kedua teringat aku yang belum diterima di PTN.

    Pendaftaran dengan nilai SBMPTN kembali dibuka oleh salah satu universitas di Jawa Timur. Tidak peduli dengan hasilnya nanti, aku daftarkan saja diriku. Tidak apa, ini adalah bagian dari usaha. Ada pula ujian tertulis yang dibuka universitas di Bogor dan Semarang. Ku ikuti kedua ujian tersebut. Aku sudah sangat serius mempersiapkan UTM ini, apapun hasilnya, semoga itu yang terbaik bagiku.

    Pengumuman hasil UTM tiba. Berdoa sebelum membuka, dan siapkan diri menerima kegagalan. “Selamat Anda dinyatakan Lulus UTM 2017”, aku menangis terharu melihatnya. Terima kasih Tuhan, akhirnya Engkau kabulkan doaku. Aku tidak menyangka, ternyata aku mampu. Aku sadar, ini berkat doa-doa orangtuaku. Sungguh, doa mereka sangat mujarab.

    Setelah diterima, aku tak begitu peduli terhadap hasil seleksi lainnya. Tapi rasa penasaran tetap ada. Saat pengumuman UTM salah satu universitas di Semarang, aku berdoa terlebih dahulu dan “Selamat Anda Diterima”. Waaaw aku hampir tidak mempercayainya. Rasanya benar-benar menggembirakan.

    Masih satu lagi pengumuman jalur mandiri yang sebentar lagi akan kubuka. Berdoa, seperti biasa, dan inilah saatnya. “Selamat Anda Diterima”. Aku tercengang. Ini serius? Bukan mimpi, kan? Aku tidak percaya, karena aku yakin nilai SBMPTN ku seharusnya tidak mampu menebus universitas ini. Tapi.... bagaimana bisa? Ini sulit dipercaya.

    Dari situ aku mulai menyadari. Ada faktor lain, selain doa dan usaha keras yang kulakukan selama ini. Ternyata doa dan keridhoan orangtua-lah yang berkonstribusi besar dalam keberhasilan ini. Jika aku tahu lebih awal, maka akan aku jaga hati mereka. Agar jangan sampai mereka terluka karena perbuatanku. Jangan sampai mereka bersedih karena sifat burukku. Terima kasih Tuhan, Engkau telah mengajarkanku betapa pentingnya menghargai dan memperlakukan orangtua dengan sangat baik. I love you, Bunda, Ayah~

Catatan Jemari: Sembilan Tahun yang ke Lumpia Kota Lama

Catatan Jemari: Sembilan Tahun yang ke Lumpia kota lama alias Semarang. Kami mengenalnya dari usia yang masih sangat muda. Dari perjalananku selama tiga hari bersama ayah dan ibu. Setiap tradisi yang menjadi ciri khasnya, betapa memukau. Membuatku jatuh hati pada Kota Lumpia penuh pesona ini.

Usiaku 9 tahun, saat ayah mengajakku ke luar kota. Aku tengah liburan akhir semester. Itulah mengapa ayah mengajakku. Ibu juga ikut ke Semarang. Kami tidak terbang naik pesawat. Kendaraan roda empat di dalam bagasilah yang akan mengantarkan kami menempuh jarak ratusan kilometer.



Sambil meliput, sambil berlibur. Ayah sudah terbiasa dengan hal ini. Aku tidak begitu paham bagaimana ayah mengatur keduanya. Jujur saja, kalau ada di posisinya, aku tak akan mampu berkonsentrasi dalam pekerjaanku. Kalian pasti tahu, apa yang ada dipikiran anak-anak. Berlibur dan bermain!

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Aku sudah tidak sabar menginjakkan kaki di bumi Semarang. Segera aku mandi dan sarapan. Setelah selesai semua persiapan, kami menuju mobil dan berangkat.

Sepanjang perjalanan aku tertidur. Saat terbangun, kulihat ke luar jendela mobil. Hmm sepertinya lapangan ini pernah kulihat di televisi. Tapi, apa yaaa? Aaah ya, Simpang Lima! Tentu saja, ini ciri khas Kota Semarang. Waah lama juga tidurku. Tau-tau sudah sampai lagi di Kota Semarang.

 

Hal pertama yang kami lakukan sesampainya di Semarang adalah mencari penginapan. Ayah mencari hotel di sekitar Simpang Lima. Setelah muta-mutar, akhirnya dapat juga, hotel bintang dua! Tidak mewah bangunannya, tapi tidak apalah. Toh, kami disini karena pekerjaan ayah. Artinya, tidak akan banyak waktu untuk berada di kamar hotel.

 Acara seminar nasional yang akan ayah liput akan dilaksanakan besok di hotel sekitar Simpang Lima. Sekarang masih sore. Ibu mengajak kami makan malam di sekitar lapangan Simpang Lima. Katanya, di sana banyak yang menjual makanan enak. Dan setiap malam, lapangan itu selalu ramai. Banyak hiburan yang bisa dinikmati.

Saat malam tiba, kami bersiap-siap untuk keluar makan malam. Ayah memilih makan di sebuah restoran. Kalau aku, pasti aku lebih memilih membeli makanan di pinggir jalan lalu membawanya ke lapangan. Di sana pasti akan terasa romantisnya makan malam. Ditemani cahaya bulan dan bintang yang menghiasi langit. Waaahh... Aku ingin sekali melakukannya!

Hmm tapi tidak apa. Makan lumpia di restoran ini juga sangat mantap. Dagingnya sangat terasa dan telurnya tidak tanggung-tanggung. Pas. Rasanya sangat enak! Menurut sejarah, lumpia merupakan perpaduan cita rasa antara Tionghoa dan Indonesia yang dibuat pertama kali di kota Semarang. Kalian bisa explore komposisi lumpia enak ini disini. Nyaamm, sedap sekali lumpialumpia disini. Tidak salah bila dikatakan Kota Lumpia!

Selesai makan, kami kembali lagi menuju hotel. Ayah harus segera istirahat agar tidak kelelahan. Untuk hari ini, cukup satu kunjungan saja. Semoga setelah ayah selesai meliput nanti, kami sekeluarga bisa berkunjung ke tempat wisata lainnya di Semarang.

Keesokan hari, saat ayah meliput, ibu mengajakku ke Museum Lawang Sewu Semarang. Karena jaraknya yang tidak dekat dari hotel, aku dan ibu berangkat menaikki mobil. Ibu yang menyetir. Kami juga membawa kamera. Momen di Lawang Sewu harus diabadikan. Foto akan menjadi bukti kenang-kenangan kami di tempat indah ini. Yaah kapan lagi kan liburan di Semarang.

Hmmm rasanya museum ini tidak pernah sepi pengunjung yaa... Aku juga pernah melihat acara televisi tentang liputan Lawang Sewu atau Pintu Seribu ini. Ya, Pintu Seribu... Masyarakat menyebutnya begitu. Karena bangunan ini mempunyai banyak pintu dan jendela yang tinggi besar. Walupun sebenarnya tidak mencapai seribu. Dalam liputan itu, seorang reporter berjalan-jalan menyusuri isi gedung sambil sesekali bercerita tentang sejarah yang tertulis di berbagai pajangan.

Aku ingat, pada masa perjuangan Indonesia dulu, gedung ini menjadi pertempuran antara pemuda Angkatan Muda Kereta Api dengan Kempetai dan Kidobutai, penjajah asal Jepang. Pembawa acara itu juga mengatakan, dulu bangunan ini pernah dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer dan Kantor Wilayah Kementrian Perhubungan Jawa Tengah.

Setelah puas berfoto di depan gedung, aku dan ibu masuk ke dalam museum. Kami menuju ke lantai paling atas. Di sana ada ruangan yang sangat luas tanpa sekat-sekat. Dulu, ruangan ini dipakai untuk tempat berdansa para pekerja Belanda dan noni-noninya. Ruangan ini ternyata juga dipakai untuk minum-minum. Di ujung ruangan terlihat ada meja yang dulu berfungsi sebagai meja bar.

Setelah selesai menyusuri lantai atas, aku dan ibu turun ke lantai bawah. Kami menuju ke ruang bawah tanah. Ternyata, ruang ini menghubungkan Lawang Sewu dengan bangunan tua lainnya di Kota Semarang. Salah satunya, yang menghubungkan ke kawasan Kota Lama yaitu sekitar 4-5 km jaraknya. Bangunan ini rupanya sengaja dirancang untuk keperluan irigasi. Karena memang letak kotanya yang dekat dengan laut. Selain itu, ruang yang dikenal sebagai penjara bawah tanah ini juga berguna untuk menangkal banjir karena air pasang. Waahh menarik sekali banguan ini!

Ibu lalu mengajakku wisata ke Klenteng Gedung Batu Sam Po Kong. Aku yang tak paham tentang seluk beluk kota ini, hanya bisa mengiyakan ajakan ibu. Dan ini dia, Klenteng Gedung Batu Sam Po Kong! Waahh megah sekali, aku bisa merasakan suasana negeri Cina di sini! Dan ditambah lagi, patung besar di depan kuil. Patung itu sengaja dibuat menyerupai seorang laksamana asal Cina, yaitu Laksamana Cheng Ho.

Kata pemandu yang mengantar kami berkeliling, Laksamana Cheng Ho adalah seorang kasim Muslim yang menjadi orang kepercayaan Kaisar Yongle dari Tiongkok. Laksamana Cheng Ho sendiri lahir di daratan Yunna. Kehidupannya tidak jauh dari berbagai peperangan saudara yang terjadi di negaranya. Karena kemampuan dan keberanian Cheng Ho, ia pun dipercaya Yongle untuk menjadi kaisar dinasti Ming.

Seiring dengan pergantian dinasti, Cheng Ho diberi amanat oleh sang kaisar menjadi seorang duta internasional. Ia melakukan berbagai ekspedisi ke berbagai negara dan mengharuskannya singgah di suatu negara, salah satunya yaitu Indonesia. Selama persinggahannya itu, ia membawa pesan perdamaian kepada setiap kerajaan yang dikunjungi dan  memulai bisnis perdagangannya juga.

Namun saat sedang berlayar melewati laut Jawa, banyak awak kapalnya yang jatuh sakit. Melihat hal itu Laksamana Cheng Ho memerintahkan para awak kapalnya merapat ke pantai utara Semarang. Setelah mendarat, ia dan para awaknya berlindung di sebuah goa dan menjadikannya sebagai markas yang sekarang telah berdiri menjadi klenteng.

Namun sekarang area klenteng yang berupa kuil ini lebih difungsikan sebagai tempat sembahyang, sehingga tidak semua orang boleh memasukinya. Bangunan kuil, baik yang besar maupun yang kecil dipagari. Ada petugas keamanan yang berjaga di sana. Hanya yang ingin sembahyang saja yang dapat masuk. Untuk wisatawan sepertiku, kami hanya bisa melihat dari balik pagar.

Aku dan ibu juga mengunjungi kuil makam juru mudi kapal yang pernah ditumpangi Laksamana Cheng Ho. Nama tempatnya Kyai Juru Mudi. Selain itu ada pula kuil yang dinamai Kyai Jangkar, karena di sini rupanya tersimpan jangkar asli kapal Cheng Ho yang dihias dengan kain warna merah. Kemudian kami berjalan lagi dan menemukan tempat bernama Kyai Cundrik Bumi. Hmmm rupanya dulu di sini merupakan tempat penyimpanan segala jenis persenjataan yang digunakan awak kapal Cheng Ho.

Untungnya, kami tidak berkunjung pada hari-hari besar seperti Hari Raya Imlek dan hari kelahiran Cheng Ho. Karena biasanya pada hari-hari itu diadakan perayaan yang cukup meriah. Ada bazar, festival Barongsai, dan berbagai macam jualan, yang pasti akan memenuhi tempat wisata ini. 

"Bu,,bu,,buuu!! Lihat buu! Itu ada orang rame-rame, ada apa yaa, bu?", mataku tertuju pada suara musikal yang mirip dengan Gambang Kromong. Dan kerumunan orang di lapangan luas plasa luar klenteng itu juga menarik perhatianku. "Ohh itu, iya, kata ayah, hari ini ada acara kontes gituu. Nah itu tuu yang lagi tampil, mereka lagi menari gambang Semarang, kamu tau kan, nia? Itu tarian khas Kota Semarang", ujar ibu.

 


Ooh jadi mereka sedang menari tarian gambang Semarang. Waah itu luar biasa! Dalam tarian ini ada gerakan tangan (lambeyan) yang berpangkal pada pergelangan tangan dengan media gerak sebatas pusar hingga pandangan mata. Dan itu semua membutuhkan latihan yang sangat serius. Kerja keras dan harus saling bekerjasama. Karena mereka bukan hanya membawa nama baik diri mereka masing-masing. Tapi mereka juga membawa nama baik Kota Semarang. 

Waahh sungguh luar biasa! Aku senang sekali bisa mengunjungi dan akhirnya menulis Catatan Jemari: Sembilan Tahun yang ke Lumpia Kota Lama ini. Di usiaku yang masih sembilan tahun, tentunya pengalaman tiga hari di kota ini sangatlah menakjubkan! Banyak sekali ilmu yang kudapat, yang mungkin tak didapatkan oleh anak seusiaku. Hmm masih banyak lagi yang belum terungkap, tapi sekarang mata ini harus dipejamkan. Sudah malam, waktunya istirahat. Kami sudah sampai kembali di kamar hotel, siap untuk tidur. Besok, pastinya, petualangan-petualangan seru akan menanti. Bersiaplah wahai mata!